DPF News

Menilik Arti dan Pengaruh Kepemimpinan di Sekolah

Sangat miris jika mendengar dan melihat beberapa kejadian yang sering terjadi di sekolah, seperti penyegelan pintu sekolah oleh masyarakat, adanya pelajar yang melakukan demonstrasi terhadap kebijakan sekolah, pelaksanaan orientasi sekolah yang menguras fisik, oknum guru yang memukuli pelajar, orang tua siswa yang mempolisikan guru karena tidak terima anaknya dimarahi, kepala sekolah yang tidak mau menanda tangani kelengkapan bahan-bahan guru dalam rangka menunjang kenaikan pangkat guru, rekomendasi guru yang tidak merata untuk mengikuti pengembangan profesi guru, dan masih banyak kasus lainnya. Sangat disayangkan jika kejadian tersebut terjadi di sekolah, yang seharusnya menjadi kumpulan orang-orang berpendidikan dan tumpuan dalam penanaman karakter.

Adanya fenomena yang terjadi di atas, barangkali menjadi salah satu indikasi bahwa sekolah belum memiliki manajemen atau kepemimpinan yang baik. Semenjak diberlakukannya peraturan otonomi daerah, rekrutmen kepala sekolah dilakukan hampir tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Hal ini tentu berimbas pada ketidakmampuan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab terutama untuk menyikapi permasalahan yang muncul di sekolah. Adanya beragam permasalahan yang kompleks, menuntut kepala sekolah untuk tidak hanya profesional tetapi juga harus mampu menjadi pemimpin yang bijak.

Kepala sekolah seharusnya mampu memainkan perannya dengan efektif serta dapat memahami karakter atau budaya sekolah yang dipimpinnya. Selain itu, kepala sekolah juga dituntut agar bisa mengaplikasikan kepemimpinan yang demokratif, transparans, jujur, dan bertanggung jawab. Satu kemampuan yan tidak kalah penting lainnya adalah adanya hubungan interaksi dan komunikasi yang baik antara pihak guru dengan kepala sekolah.

Berdasarkan hakikatnya, kepemimpinan adalah suatu yang melekat pada diri seseorang pemimpinan yang berupa sifat-sifat kepribadian (personality), kemampuan (Ability), dan kesanggupan (Capability). Kepemimpinan adalah sebagai proses antar hubungan atau interaksi antara pemimpin, pengikut dan situasi (wahjosumidjo, 1987).

Memahami pengertian kepemimpinan dari berbagai pakar akan memberikan gambaran bahwa kepemimpinan merupakan suatu peran yang penting dalam memimpin sebuah sekolah, maka dari itu menjadi pemimpin sekolah tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi, banyak hal yang harus dipahami, banyak masalah yang harus dipecahkan, dan banyak strategi yang harus dikuasai (E-Mulyasa, 2005).

Untuk itu, penunjukan dan pengangkatan kepala sekolah harus betul-betul mejadi pemahaman yang besar bagi pejabat yang mengangkat atau pemegang kepentingan, sudah tidak saatnya lagi penunjukan dan pengangkatan kepala sekolah dikarenakan adanya hubungan–hubungan tertentu antara yang diangkat dengan yang mengangkat, sehingga dalam pelaksanaan tugas dan tanggungnya jawabnya nanti, pemimpin sekolah benar-benar mampu mengantarkan sekolah yang dpimpinnya kearah perubahan–perubahan budaya sekolah kearah yang lebih baik dan bermutu.

Menyadari pentingnya kepemimpinan di sekolah, maka  kepala sekolah harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: pertama, selalu mengkomunikasikan nilai-nilai lembaga sekolah terhadap seluruh warga sekolah termasuk masyarakat sekitarnya (Vision and Symbolic). Kedua, memiliki cara untuk memahami, berkomunikasi, dan mendiskusikan proses yang berkembang dalam lembaga sekolah dan tidak hanya duduk dibelakang meja kerja (Management by walking about), ketiga memberikan perhatian yang sunguh-sungguh kepada semua anggota lembaga sekolah terutama kepada peserta didik, (for the kids), keempat memiliki otonomi, suka mencoba hal-hal yang baru dan memberikan dukungan bagi sikap inisiatif dan inovatif untuk memperbaiki kegagalan (Autonomy, Exprimentations, and support for Failure), kelima menumbuhkan rasa kekeluargaan diantara sesama peserta didik, guru, karyawan dan pimpinan staf lainnya (Create a sense of family), keenam menumbuhkan rasa kebersamaan, keinginan, semangat, dan potensi diri setiap anggota sekolah (Sense of the whole, rhytme, passion, Intensity and Enthusay), (Syafrudin, 2002)

Apabila kepala sekolah telah memposisikan dirinya sebagai pemimpin sekolah dan mampu mengaplikasikan beberapa hal tersebut di atas, maka segala bentuk persoalan yang muncul dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab dalam memimpin sekolah akan dapat teratasi, serta akan mampu mengantarkan sekolah melakukan perubahan-perubahan budaya ke arah yang lebih baik dan bermutu.

Share
Twitter
DENDI MARNO

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2016 Djalaluddinp Pane Foundation .