DPF News

Budaya Komentar di Media Sosial

30 Nov 2016 media sosial, 1 Comments

Kehadiran new media seperti Facebook, Twitter, Linkedin, dan lain-lain tidak bisa dipungkiri telah turut mengubah kebudayaan hari ini. Kebudayaan yang dimaksud adalah pola berpikir dan juga etos bertindak. Dua hal tersebut, agaknya menjadi penting melihat bagaimana perkembangan perilaku di media sosial masyarakat Indonesia akhir-akhir ini.

Karlia Supelli, seorang Filsuf perempuan di Indonesia pada satu kesempatan pernah menyinggung fenomena komentar, terutama di media sosial, yang tidak jarang menimbulkan keresahan dan bahkan konflik. “Sejak media sosial berkembang, orang semakin mudah menyebarkan segala macam omongan, mulai dari kabar serius sampai desas desus politik, perang ideologi, rasisme, dan sebagainya,” ujarnya.

Barangkali karena usaha untuk memeriksa terlebih dahulu suatu kabar memerlukan lebih banyak energi ketimbang menyebarkannya, maka kebanyakan dari pengguna media sosial akhirnya hanya berlomba-lomba dalam meneruskan kabar. “Paling tidak supaya dapat dianggap update.” Tambah Karlina.

Teknologi, menurut Karlia, juga turut berperan dalam melahirkan budaya komentar, “Siapa saja boleh komentar, tidak peduli apakah komentar tersebut menyakiti, melukai bahkan menyingkirkan orang lain. Teknologi hari-hari ini juga telah berperan melahirkan “setan gundul” yang membuat orang lain menjadi korban.” Setan gundul yang dimaksud Karlina adalah terjemahan dari kata Troll. Karlina mengacu pada laporan majalah Times mengenai fenomena Troll sebagai suatu Culture of Hate yang dapat ditimbulkan oleh internet.

***

Banyaknya pilihan informasi yang lalu-lalang di media sosial barangkali adalah suatu keistimewaan yang dapat dinikmati generasi digital saat ini. Namun disisi lain, hal ini turut berdampak pada pemilihan bacaan yang akan kita lahap setiap hari. Kita tergesa-gesa untuk memilih bacaan dengan judul yang kontroversial, lantas ketika belum selesai dengan satu bacaan akan ada bacaan lain yang menyita perhatian. Ritme seperti ini tidak jarang dan barangkali memang sulit dihindari, sehingga pada akhirnya kita tidak fokus dan menganalisa dengan setengah-setengah suatu permasalahan.

Nicholas G. Carr, dalam bukunya The Shallow; What The Internet is Doing to Our Brains bahkan secara lebih ekstrim menyebut fenomena pengalihan atau distraksi melalui internet ini sebagai suatu kedangkalan cara pikir.

Sejalan dengan perkembangan digital, media sebagai salah satu penyalur informasi hari ini juga tengah mempertaruhkan kualitasnya bersamaan dengan kepentingan bisnis mereka. Media pada saat ini dituntut lebih kreatif dalam merebut perhatian pembaca. Namun alih-alih kreatif, kebanyakan media justru terjebak dalam euphoria kecepatan informasi namun kalah dalam akurasi dan verifikasi data. Isu sensasional kemudian menjadi lahan untuk berebut rating dan klik.

Pada tahap inilah kita dapat melihat bagaimana budaya komentar dari masyarakat media sosial bekerja. Bila diperhatikan, setiap berita yang dinilai sensasional dan mengundang perdebatan, maka akan muncul puluhan komentar dari banyak pembacanya. Isinya pun beragam, ada yang berupa cacian, pujian, hingga beragam produk jualan online.

Terkait kolom komentar ini, sebuah situs berita kenamaan di Amerika; New York Times telah memperlakukan filter (penyaringan) atas komentar-komentar yang masuk dalam situs berita online mereka. Sebelum ditampilkan di bawah tiap artikel, setiap komentar harus mendapatkan persetujuan dari moderator yang terdiri dari para jurnalis The New York Times. Hal ini dilakukan untuk menghindari komentar-komentar yang bernada melecehkan, rasis, dan kasar. Selain itu, moderasi juga dilakukan untuk memilah apakah komentar diberikan oleh akun asli atau tidak. (Remotivi)

Hal ini menarik, karena dengan demikian kolom komentar dari situs berita mereka mampu menjadi forum diskusi. Beragam sudut pandang dan ide akan berseliweran dan memberi gagasan baru dari sebuah berita/artikel. Hal ini barangkali dapat menjadi satu pertimbangan dan refleksi besar bagi kita, masyrakat Indonesia yang juga kerap memberi komentar-komentar atas berita maupun artikel di Internet. Apakah kita memberi komentar yang baik? Apakah kita telah mampu memberikan kritikan dengan benar? Apakah yang kita bahas adalah ide, atau malah menyerang pribadi dan menjatuhkan karakter seseorang?

Salah satu hal yang patut menjadi perhatian adalah bagaimana saat sekarang, media sosial dapat menjadi sebuah citra atau cerminan diri seseorang. Beberapa ahli telah meramalkan akan hal ini bahkan jauh sebelum media sosial itu ada. Marshall McLuhan, pada tahun 1965 pernah menyatakan bahwa medium dapat menjadi perpanjangan indera maupun saraf manusia. Joseph Dominic pada tahun 1999 juga pernah melakukan penelitian mengenai presentasi diri melalui website pribadi. Dalam studi tersebut terdapat beberapa anggapan yang menyatakan bahwa website pribadi merupakan resume atau biodata informal pribadi, wadah untuk mengiklankan diri (self advertisement).

Sehingga tidak salah apabila tindak tanduk kita di media sosial saat ini sedikit banyaknya akan mencerminkan karakter diri kita sendiri. Dengan demikian, apakah kita masih akan akan sembarangan memberikan komentar? Apakah kita masih akan ikut-ikutan menyebar berita hoax?

(Ariyanti)

 

Twitter
ARIYANTI

Staf konten dan media Djalaluddin Pane Foundation

1 Comments

  1. viagra

    02 Nov 2017

    I need a prescription for herbal viagra in canada in .


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2016 Djalaluddinp Pane Foundation .